akhirnya gue bisa online
bela-belain buat kewarnet cuma buat ini
buat ngepost isi surat gue ke raissa
begini suratnya
Asalamualaikum.
Waaaaah, raissa nyuruh bikin surat?kesempatan ni buat ngeluarin unek-unek selama ini :P
Hem,sebenernya ya raissa itu baik. Bagusssssssssssssss banget tapi etah kenapa saya ngerasa ga nyaman baik berada ditengah-tengah anak raissa atau dilingkungan sma 1 sendiri. Salah satu contohnya gini, ada temen saya yang berbuat salah. Lalu si guru bilang gini, “kamu ni ya, ga bisa lebih ngehargai apa? Kamu kan anak raissa.” Heloooooooo, yang berbuat salah kan dia kenapa raissa yang dibawa-bawa. Jadinya kesannya berat gitu ya jadi anak raissaa. Padahal cuma ikutan ekskul dan nambah ilmu. Kenapa mesti bawa-bawa gtu. Serasa beban gitu jadi anak raissa, serasa dikekang, ini itu ga boleh sedangkan saya butuh kebebasan untuk mencari jati diri saya. Ngerasa banget bebannya nyandang nama ikutan ekskul raissa. Mentang-mentang anak raissa jilbab harus panjang gt?ga boleh pake jeans gt?helooooooooooooooo mak saya aja risih kalo saya pake rok dan jilbab panjang. Semuanya bikin saya ga nyaman. Saya ngerasa itu bukan diri saya kalu saya ngikutin semua cirri khas anak raisa. Pake rok, jilbab panjang dan segala titikbengeknya lah. Lagian ya sekarang saya udah males liat cewek apalagi anak sma (smansa gtu) make jilbab panjang. Karena apa?karena kebanyakan mereka itu MUNAFIK. Bilangnya pacaran itu ga boleh, ini lah itu lah taunya dia sendiri yang pacaran. MUNAFIK kan tu namanya? Ngerusak citra RAISSA banget tu.
Bukankah semua itu butuh proses. Saya mau kok kea kalian. Kemana-mana Make rok, jilbab panjang. Tapi bukan sekarang, bukan dengan paksaan.semua itu harus dari hati. Maaf ya saya udah ga nyaman dengan ikutan kajian raissa..maaf juga saya agak kasar ngomongnya. Pemikiran orang kan berbeda-beda ya mungkin yang saya omongin ni belum tentu kan kalian semua setuju , tp paling tidak kalian hargai pendapat saya..sekali lagi maaf banget.terlalu berat menyandang nama anggota raissa. Kalo setelah ini kalian mau mengeluarkan saya dari kepengurusan saya bersedia dengan segala hormat. Saya ga benci kok sama raissa nya Cuma ngerasa ga nyaman aja. Diri saya bukan disana. Saya selalu menjadi orang lain dan saya ga pernah mengharapkan itu. Saya ingin diterima dengan keadaan saya yang sekarang. Bukan harus berubah sebagai tuntutan.
gue ga peduli kalau mereka baca blog gue dan tau yang nulis tu gue
yang penting kan gue udah jujur. minimal jujur ama diri gue sendiri....
Kamis, 22 April 2010
surat buat raissa
Rabu, 21 April 2010
nothing ~
satu tahun berlalu entah kenapa rasanya sakit itu masih ada
apa karena aku terlalu mencinta atau karena luka yang kau buat terlalu dalam.
kau tau, tidak ada alasan ku mencintaimu dan tidak ada alasan pula aku membencimu
kubiarkan sang waktu yang menghapus kamu dan kubiarkan Tuhan menggantikan kamu dengan yang lebih baik.
Selasa, 20 April 2010
Buku Online, Lomba Cerpen, Komik Digital, Majalah Digital - [Virtual XBook]
kelupaan gue :(
anjritttttttttttttttttt sebenernya gue pengen curhat mengenai surat yang gue tulis ke RAISSA cuman gue lupa mindahin ke word 2003. tadi pagi sih guenya buru-buru.
sebenernya kalo gue bangun agak pagian dikit, bisa la tu dipendahin dulu...
hhuuuu....ntar aja deh gue post tentang surat itu.
yang pasti isinya tentang isi hati gue banget tu selama berkecimpung jadi anak raissa.agak pedes sih kata-kata gue tapi gue ga peduli.
mau mereka baca dan beranggapan kalao gue buruk atau apalah GUE GA PEDULI.
gue ya gue so wht? gue cuman pengen kalian tu nerima gue apa adanya itu doang kok....
yang penasaran tenttang isi surat gue..dont miss it. oke???? :D
Rabu, 14 April 2010
Pahlawan Toha
ini dia nih cerpen gue.
jadul banget
udah lama bikinnya....begini ceritanya
Semua murid dengan berat hati kembali kelas untuk melanjutkan pelajaran setelah bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Aku pun mengayunkan kakiku menuju kelas sembilan G yang terletak di samping kantor guru SMP Negeri 7 Jambi, sekolah standar nasional yang menuju standar internasional
“Siang anak-anak!” sapa Bu Rahma saat masuk kelas untuk memulai pelajaran.
“ Siang Bu!” jawab kami serentak.
“Siang ini kalian kedatangan teman baru.. dia baru pindah dari Merangin. Ayo Nak silahkan perkenalkan diri kamu,” perintah Bu Rahma.
Kupandangi anak baru itu... Ya Tuhan! Gaya anak itu seperti seorang pahlawan.
“Perkenalkan teman-teman, nama saya Muhammad Taufik, tapi sering dipanggil Toha,” kata anak baru itu.
“Kenapa nama panggilan kamu Toha? Bukan Taufik?” tanya salah satu temanku.
“Itu karena kekek buyutku adalah pahlawan Jambi, dia adalah Sutan Taha.
Karena aku yang paling mirip kakek, jadi seluruh keluargaku memanggilku Toha,” jelas anak baru itu.
“Berarti keturunan pahlawan?”
“Iya aku memang keturunan pahlawan.”
Taufik alias Toha dipersilahkan duduk oleh Bu Rahma. Langkah anak baru itu menuju ke mejaku. Ternyata benar! Toha itu duduk disampingku.
Semenjak kehadiran Toha, kelas menjadi ramai, apalagi saat istirahat. Semua murid dari kelas satu sampai kelas tiga datang ke kelas untuk menemui keturunan pahlawan itu.
Semenjak itu pula kekesalanku muncul. Setiap hari Toha memamerkan kehebatannya. Aku akui dia memang pandai dalam hal silat, tapi apa perlu hal itu dipamerkan pada orang lain? Apa karena dia keturunan pahlawan, jadi dia boleh memamerkan kehebatnnya? Aku pikir itu tidak benar, seorang pahlawan bukan hanya pandai dalam urusan silat, tapi juga harus pandai dalam urusan pelajaran.
“Anak-anak, hari ini Ibu akan mengadakan ulangan, jadi persiapkan peralatan tulis kalian dan tidak ada yang mencontek,” kata Bu Rahma.
Aku rasa ini adalah cara yang tepat untuk ajang pembuktian, apakah Toha itu memang seorang pahlawan yang bukan hanya pintar dalam hal silat tapi juga dalam hal pelajaran.
“Kenapa mendadak, Bu?” kata Nesa, sahabatku.
“Namanya saja ulangan mendadak, kalau diberitau terlebih dahulu bukan ulangan mendadak namanya. Sudah ikuti saja perintah Ibu.”
Semuanya mengeluh dan kesal terkecuali aku. Aku ingin tau seberapa pintar pahlawan itu.
“Kamu kenapa mengerjakan soal sambil senyum-senyum? Kamu gila ya?” tanya Toha dengan pelan.
“Tidak, aku tidak gila. Aku senyum-senyum karena hari ini ada ulangan,” jawabku.
“Berarti kamu tau kalau hari ini ada ulangan? Kenapa kamu tidak memberitaukan aku? Kamu curang,” katanya.
Aku hanya menggeleng. Pembicaraan kami terhenti saat Bu Rahma memperingati kami agar diam.
Saat istirahat Toha melanjutkan pertanyaannya kembali yang belum sempat kujawab.
“Kenapa kamu tidak memberitaukanku kalau hari ini kita ada ulangan?” tanya Toha.
“Itu karena aku tidak tau, kau kan pahlawan dan pahlawan itu harus bisa dalam segala hal. Kalau kau tidak bisa mendapatkan nilai bagus dalam ulangan tadi, apa pantas kau disebut pahlawan?”
Toha tidak menjawab, namun ia pergi dengan muka agak cemas. Sepanjang jam pelajaran terakhir, Toha hanya diam tak mau berbicara sepatah kata pun dan yang ia lakukan hanya menung seperti memikirkan sesuatu.
“Kamu kenapa Toha? Kok aku perhatikan kau diam saja?” tanyaku yang membuyarkan pikirannya.
“A...aku... aku hanya memikirkan yang kamu ucapkan tadi, kalau aku ini pahlawan bodoh,” jelasnya.
Aku tak menyangka apa yang kuucapkan tadi akan menyinggung perasaannya.
“To..Toha aku minta maaf, kalau perkataanku tadi menyinggung perasaanmu”
Lagi-lagi dia diam dan kembali fokus kepelajaran.
Fajar telah kembali menyinari bumi, itu berarti hari telah berganti. Hari ini, untuk kesekian kalinya Toha tak mau bicara padaku dan juga kepada teman-teman yang lain. Pelajaran pertama telah dimulai. Guru yang cantik yang sangat disukai teman-teman pum memasuki kelasku. Walaupun demikian, banyak teman-teman yang tak menyukai pelajarannya, yaitu fisika.
“Baiklah anak-anak, Ibu akan membagikan hasil ulangan kalian yang kemarin.”
Aku deg-degan menunggu namaku dipanggil. Setelah menunggu, akhirnya namaku dipanggil juga. Aku sangat senang karena aku mendapatkan nilai yang sempurna. Nilai seratus, dan itu artinya aku menjawab soal dengan tepat dan benar. Kegembiraanku memudar, saat aku melihat Toha.
Aku tak segera bertanya padanya. Aku akan menunggu saat bel istirahat berbunyi.
“Tet...tet...tet...”
Bel pun berbunyi.
“Kamu mendapat nilai berapa Toha?” tanyaku dengan nada agak sedikit mengejek.
“Jauh dibawahmu.”
Toha memperlihatkan kertas ulangannya.
“Tiga Puluh?” tanyaku seakan tidak percaya.
“Iya, sekarang kamu puaskan aku mendapatkan nilai jelek, kamu akan bilangkan kesemua orang kalau aku ini pahlawan yang hanya bisa silat, tapi gak bisa belajar? Atau kamu mau bilang kalau aku ini pahlawan yang bodoh? Itukan yang kamu mau? Kenapa gak bilang sekarang?” tanyanya yang membuatku kaget.
“Awalnya aku memang ingin berbuat begitu, tapi...”
“Tapi apa?” selanya
Aku terdiam, aku tak tau harus bicara apalagi padanya.
“Kenapa kamu tidak menjawab?”
Aku menunduk dan Toha pergi.
Kenapa aku ini? Seharusnya aku senang? Bukankah ini yang kuinginkan? Melihatnya malu didepan semua orang. Tapi, kenapa sekarang aku sedih? Kenapa aku nggak tega untuk melakukan semuanya? Semua yang sudah kurencanakan. Apa aku kasihan melihatnya? Lantas, kenapa aku iba melihatnya? Batinku berbicara.
“Toha...To...Toha,” aku memanggilnya berkali-kali.
“...”
Toha tak menghiraukan panggilanku. Tapi aku tak menyerah, aku terus mengejarnya hingga ia tak lagi melangkah dan duduk ditaman belakang sekolah.
“Kenapa kamu pergi begitu saja?” tanyaku.
Aku duduk di sampingnya.
“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kenapa kamu tidak memberitaukan semua orang kalau aku ini Toha keturunan pahlawan yang hanya pintar silat tapi ulangan dapat nilai jelek? Bukannya itu yang kamu inginkan?” tanya Toha.
“Awalnya aku memang ingin melakukannya. Tapi, aku setelah aku pikir-pikir aku yakin kamu akan dapat nilai bagus asal kamu mau belajar,” jelasku padanya.
“Kenapa kamu begitu yakin? Karena aku cucunya Sutan Taha?” cetusnya.
“Tidak.”
“Lantas kenapa kamu yakin?”
“Begini saja, mulai besok akan diadakan ulangan bulanan, kalau kamu bisa mendapatkan nilai bagus dalam semua mata pelajaran yang diujikan, aku akan bilang kesemua orang kalau kamu memang pantas disebut pahlawan. Gimana? Setuju?” usulku.
“Baiklah aku setuju. Aku yakin aku bisa mengalahkanmu saat ujian besok.”
Aku melihat Toha serius dengan apa yang diucapkannya tadi, dia akan mengalahkanku saat ulangan besok. Aku melihatnya serius menerima pelajaran, apalgi saat pulang sekolah nanti dia mengajakku belajar bersama.
Selama ujian berlangsung, Toha mengerjakan soal dengan baik. Aku berharap ia akan menepati janjinya, akan mengalahkanku. Paling tidak dia mendapatkan nilai yang baik.
“Aku berharap aku bisa mengalahkanmu,” kata Toha saat ujian terakhir selesai.
“Aku berharap juga begitu,” jawabku.
Semua anak berbondong-bondong menuju mading. Karena hasil ujian bulanan akan diumumkan di mading dan akan diurutkan berdasarkan rangking. Aku tak segera melihatnya karena aku menunggu seseorang. Akhirnya Toha datang juga.
“Aku tak sabar melihat hasilnya,” Ucapnya.
“Aku juga.” Kami pergi ke mading.
Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Toha alias Muhammad Taufik berhasil mengalahkanku dan mendapatkan peringkat pertama. Aku juga kaget, perbedaan nilai kami tipis banget. Aku mendapatkan nilai sembilan puluh sembilan koma sembilan dua , sedangkan dia sembilan puluh sembilan koma sembilan lima. Cuma berbeda nol koma tiga. Dibalik itu semua aku bangga pada Toha, dia dapat membuktikan padaku kalau dia akan mengalahkanku.
“Selamat ya. Aku tidak menyangka kamu akan mengalahkanku,” kataku.
“Sama-sama, aku sudah berjanji akan mengalahkanmu maka janji itu akan kutepati.”
“Aku bangga padamu, kau memang pantas disebut pahlawan,” kataku sambil menepuk pundaknya.
“Bukan pahlawan yang bodoh kan?”
“Ya bukan lah.”
“Syukur la.”
“Teman-teman kumpul sebentar ya!” perintahku.
Semua teman-teman berkumpul dan siap mendengar pengumuman yang akan segera kuberitau.
“Dulu aku menganggap kalu Toha yang keturunan Pahlawan ini hanya pintar dalam hal membela diri saja, apalagi setelah ulangan kemarin ia mendapatkan nilai jelek. Tapi sekarang, setelah dia berhasil mengalahkanku dan memperoleh peringkat pertama aku salah, dia memang pantas disebut pahlawan. Toha memang pahlawan kita semua. Pahlawan SMP 7,” kataku pada mereka.
“Terima kasih Iren, aku juga bisa seperti ini berkat kamu. Sekarang aku sadar kalau ingin menjadi pahlawan itu bukan hanya pintar membela diri tapi juga pintar dalam hal pelajaran. Aku yakin kakekku bangga melihatku sekarang. Aku berjanji pada kalian dan diriku sendiri kalau aku akan membuat sekolah ini bahkan kota ini bangga dan bersyukur punya murid maupun rakyat sepertiku,” katanya padaku.
“Aku harap kau akan membuktikannnya bulan depan.”
“Jadi kita teman kan?” tanyanya
“Benar kita teman sekaligus rival,” jawabku.
Semua teman bertepuk tangan untuk kami. Aku dan Toha berjabat tangan lalu masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Pertama
pertama..bukan bearti pertama kali nulis...tapi pertama kali ngeblog haha..
kampung banget sih gue!!
well, namanya aja asal cerita asal tulis,
apapun akan gue tulis. mau itu penting atau enggak.
so, keep read my story ya :))
